Kamis, 06 Januari 2011

pertumbuhan penduduk di indonesia

Pertumbuhan penduduk adalah perubahan populasi sewaktu-waktu, dan dapat dihitung sebagai perubahan dalam jumlah individu dalam sebuah populasi menggunakan "per waktu unit" untuk pengukuran. Sebutan pertumbuhan penduduk merujuk pada semua spesies, tapi selalu mengarah pada manusia, dan sering digunakan secara informal untuk sebutan demografi nilai pertumbuhan penduduk, dan digunakan untuk merujuk pada pertumbuhan penduduk dunia.Model pertumbuhan penduduk meliputi Model Pertumbuhan Malthusian dan model logistikDalam demografi dan ekologinilai pertumbuhan penduduk (NPP) adalah nilai kecil dimana jumlah individu dalam sebuah populasi meningkat. NPP hanya merujuk pada perubahan populasi pada periode waktu unit, sering diartikan sebagai persentase jumlah individu dalam populasi ketika dimulainya periode.
Cara yang paling umum untuk menghitung pertumbuhan penduduk adalah rasio, bukan nilai. Perubahan populasi pada periode waktu unit dihitung sebagai persentase populasi ketika dimulainya periode. 
Jumlah dan Laju Pertumbuhan Penduduk
Hasil proyeksi menunjukkan bahwa jumlah penduduk Indonesia selama dua puluh lima tahun mendatang terus meningkat yaitu dari 205,1  juta pada tahun 2000 menjadi 273,2 juta pada tahun 2025 (Tabel 3.1). Walaupun demikian, pertumbuhan rata-rata per tahun penduduk Indonesia selama periode 2000-2025 menunjukkan kecenderungan terus menurun. Dalam dekade 1990-2000, penduduk Indonesia bertambah dengan kecepatan 1,49 persen per tahun, kemudian antara periode 2000-2005 dan 2020-2025 turun menjadi 1,34 persen dan  0,92 persen per tahun. Turunnya laju pertumbuhan ini ditentukan oleh turunnya tingkat kelahiran dan kematian, namun penurunan karena kelahiran lebih cepat daripada penurunan karena kematian. Crude Birth Rate (CBR) turun dari sekitar 21 per 1000 penduduk pada awal proyeksi menjadi 15 per 1000 penduduk pada akhir periode proyeksi, sedangkan Crude Death Rate (CDR) tetap sebesar 7 per 1000 penduduk dalam kurun waktu yang sama.
Salah satu ciri penduduk Indonesia adalah persebaran antar pulau dan provinsi yang tidak merata.  Sejak tahun 1930, sebagian besar penduduk Indonesia tinggal di Pulau Jawa, padahal luas pulau itu kurang dari tujuh persen dari luas total wilayah daratan Indonesia. Namun secara perlahan persentase penduduk Indonesia yang tinggal di Pulau Jawa terus menurun dari sekitar 59,1 persen pada tahun 2000 menjadi 55,4 persen pada tahun 2025. Sebaliknya persentase  penduduk yang tinggal di pulau pulau lain meningkat seperti, Pulau Sumatera naik dari 20,7 persen menjadi 22,7 persen, Kalimantan naik dari 5,5  persen menjadi 6,5 persen pada periode yang sama.  Selain pertumbuhan alami di pulau-pulau tersebut memang lebih tinggi dari pertumbuhan alami di Jawa, faktor arus perpindahan yang mulai menyebar ke pulau-pulau tersebut juga menentukan distribusi penduduk (Tabel 3.1).
Tabel 3.1 Laju Pertumbuhan Penduduk Menurut Provinsi 2000-2025
Propinsi
2000
2005
2010
2015
2020
2025
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
11. NANGGROE ACEH DARUSSALAM
3,929.3
4,037.9
4,112.2
4,166.3
4,196.5
4,196.3
12. SUMATERA UTARA
11,642.6
12,452.8
13,217.6
13,923.6
14,549.6
15,059.3
13. SUMATERA BARAT
4,248.5
4,402.1
4,535.3
4,693.4
4,785.4
4,846.0
14. RIAU
4,948.0
6,108.4
7,469.4
8,997.7
10,692.8
12,571.3
15. JAMBI
2,407.2
2,657.3
2,911.7
3,164.8
3,409.0
3,636.8
16. SUMATERA SELATAN
6,210.8
6,755.9
7,306.3
7,840.1
8,369.6
8,875.8
17. BENGKULU
1,455.5
1,617.4
1,784.5
1,955.4
2,125.8
2,291.6
18. LAMPUNG
6,730.8
7,291.3
7,843.0
8,377.4
8,881.0
9,330.0
19. KEPULAUAN BANGKA BELITUNG
900.0
971.5
1,044.7
1,116.4
1,183.0
1,240.0
31. DKI JAKARTA
8,361.0
8,699.6
8,981.2
9,168.5
9,262.6
9,259.9
32. JAWA BARAT
35,724.0
39,066.7
42,555.3
46,073.8
49,512.1
52,740.8
33. JAWA TENGAH
31,223.0
31,887.2
32,451.6
32,882.7
33,138.9
33,152.8
34. D I YOGYAKARTA
3,121.1
3,280.2
3,439.0
3,580.3
3,694.7
3,776.5
35. JAWA TIMUR
34,766.0
35,550.4
36,269.5
36,840.4
37,183.0
37,194.5
36. BANTEN
8,098.1
9,309.0
10,661.1
12,140.0
13,717.6
15,343.5
51. B A L I
3,150.0
3,378.5
3,596.7
3,792.6
3,967.7
4,122.1
52. NUSA TENGGARA BARAT
4,008.6
4,355.5
4,701.1
5,040.8
5,367.7
5,671.6
53. NUSA TENGGARA TIMUR
3,823.1
4,127.3
4,417.6
4,694.9
4,957.6
5,194.8
61. KALIMANTAN BARAT
4,016.2
4,394.3
4,771.5
5,142.5
5,493.6
5,809.1
62. KALIMANTAN TENGAH
1,855.6
2,137.9
2,439.9
2,757.2
3,085.8
3,414.4
63. KALIMANTAN SELATAN
2,984.0
3,240.1
3,503.3
3,767.8
4,023.9
4,258.0
64. KALIMANTAN TIMUR
2,451.9
2,810.9
3,191.0
3,587.9
3,995.6
4,400.4
71. SULAWESI UTARA
2,000.9
2,141.9
2,277.2
2,402.8
2,517.2
2,615.5
72. SULAWESI TENGAH
2,176.0
2,404.0
2,640.5
2,884.2
3,131.2
3,372.2
73. SULAWESI SELATAN
8,050.8
8,493.7
8,926.6
9,339.9
9,715.1
10,023.6
74. SULAWESI TENGGARA
1,820.3
2,085.9
2,363.9
2,653.0
2,949.6
3,246.5
75. GORONTALO
833.5
872.2
906.9
937.5
962.4
979.4
81. M A L U K U
1,166.3
1,266.2
1,369.4
1,478.3
1,589.7
1,698.8
82. MALUKU UTARA
815.1
890.2
969.5
1,052.7
1,135.5
1,215.2
94. PAPUA
2,213.8
2,518.4
2,819.9
3,119.5
3,410.8
3,682.5

Jumlah penduduk di setiap provinsi sangat beragam dan bertambah dengan laju pertumbuhan yang sangat beragam pula.  Bila dibandingkan dengan laju pertumbuhan periode 1990-2000, maka terlihat laju pertumbuhan penduduk di beberapa provinsi ada yang naik pesat dan ada pula yang turun dengan tajam (data tidak ditampilkan). Sebagai contoh, provinsi-provinsi yang laju pertumbuhan penduduknya turun tajam minimal sebesar 0,50 persen dibandingkan periode sebelumnya (1990-2000) adalah Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Selatan, Bengkulu, Jawa Tengah, Sulawesi Tengah, Gorontalo dan Papua. Sementara, provinsi yang laju pertumbuhannya naik pesat minimal sebesar 0,40 persen dibandingkan periode sebelumnya adalah Lampung, Kep. Bangka Belitung, DKI Jakarta dan Maluku Utara.
Tabel 3.2. memperlihatkan dua provinsi dengan rata-rata laju pertumbuhan penduduk minus yaitu, Nanggroe Aceh Darussalam dan DKI Jakarta. Kondisi ini kemungkinan akibat dari asumsi migrasi yang digunakan, yaitu pola migrasi menurut umur selama periode proyeksi dianggap sama dengan pola migrasi periode 1995-2000, terutama untuk provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Pola net migrasi provinsi ini pada periode 1995-2000 adalah minus di atas 10 persen, jauh lebih tinggi dari provinsi-provinsi pengirim migran lainnya.
Tabel 3.2 Laju Pertumbuhan Penduduk Menurut Provinsi 2000-2025
Propinsi
2000-2005
2005-2010
2010-2015
2015-2020
2020-2025
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
11. NANGGROE ACEH DARUSSALAM
0.55
0.37
0.26
0.14
-0.00
12. SUMATERA UTARA
1.35
1.20
1.05
0.88
0.69
13. SUMATERA BARAT
0.71
0.60
0.69
0.39
0.25
14. RIAU
4.30
4.11
3.79
3.51
3.29
15. JAMBI
2.00
1.85
1.68
1.50
1.30
16. SUMATERA SELATAN
1.70
1.58
1.42
1.32
1.18
17. BENGKULU
2.13
1.99
1.85
1.69
1.51
18. LAMPUNG
1.61
1.47
1.33
1.17
0.99
19. KEPULAUAN BANGKA BELITUNG
1.54
1.46
1.34
1.17
0.95
31. DKI JAKARTA
0.80
0.64
0.41
0.20
-0.01
32. JAWA BARAT
1.81
1.73
1.60
1.45
1.27
33. JAWA TENGAH
0.42
0.35
0.26
0.16
0.01
34. D I YOGYAKARTA
1.00
0.95
0.81
0.63
0.44
35. JAWA TIMUR
0.45
0.40
0.31
0.19
0.01
36. BANTEN
2.83
2.75
2.63
2.47
2.27
51. B A L I
1.41
1.26
1.07
0.91
0.77
52. NUSA TENGGARA BARAT
1.67
1.54
1.41
1.26
1.11
53. NUSA TENGGARA TIMUR
1.54
1.37
1.23
1.09
0.94
61. KALIMANTAN BARAT
1.82
1.66
1.51
1.33
1.12
62. KALIMANTAN TENGAH
2.87
2.68
2.48
2.28
2.04
63. KALIMANTAN SELATAN
1.66
1.57
1.47
1.32
1.14
64. KALIMANTAN TIMUR
2.77
2.57
2.37
2.18
1.95
71. SULAWESI UTARA
1.37
1.23
1.08
0.93
0.77
72. SULAWESI TENGAH
2.01
1.89
1.78
1.66
1.49
73. SULAWESI SELATAN
1.08
1.00
0.91
0.79
0.63
74. SULAWESI TENGGARA
2.76
2.53
2.33
2.14
1.94
75. GORONTALO
0.91
0.78
0.67
0.53
0.35
81. M A L U K U
1.66
1.58
1.54
1.46
1.34
82. MALUKU UTARA
1.78
1.72
1.66
1.53
1.37
94. PAPUA
2.61
2.29
2.04
1.80
1.54

www.datastatistik-indonesia.com/content/view/919/934
Kebudayaan Internasional


Alvin Tofler dalam gelombang budayanya menyebutkan tahap perubahan tingkat budaya suatu masyarakat, yaitu:
a.      Agriculture, bercirikan sebagai kehidupan masyarakat petani yang hidup dar
       yang subur sehingga hanya sedikit masalah yang harus dipecahkannya.
b. Industri,   semakin banyaknya populasi dan semakin berkurangnya sumber daya alam yang ada sangat mempengaruhi daya kreatifitas manusia untuk memecahkan masalah kebutuhan fiilnya, sehingga berkembangnya industri dalam rangka memaksimalkan pengolahan sumber daya alam yang ada. Dalam kondisi ini manusia menjadi semakin individual karena saling berebut alat pemuas kebutuhannya.
c. Informasi,  Semakin bertambahnya populasi manusia, semakin sedikit pula sumber daya yang tersedia menyebabkan kelompok masyarakat harus mencari sumber dari wilayah kelompok masyarakat yang lain. Keadaan inilah yang menyebabkan manusia saling berlomba mencari dan bertukar informasi tentang sumber pemenuhan kebutuhannya.
d. Demokratisasi/Internasionalisasi, adalah tahap kesadaran manusia sebagai makhluk sosial yang hidupnya sangat tergantung pada manusia yang lain dalam rangka pemenuhan kebutuhannya, maka batas kelompok masyarakat sudah sangat meluas keseluruh penjuru dunia, pertukaran informasi berubah menjadi proses kerjasama saling menguntungkan dari setiap manusia maupun kelompok masyarakat. Masyarakat tidak lagi terikat dalam satu kelompok masyarakat diwilayah tertentu, karena kelompok baru yang terbentuk bukan berdasarkan batas wilayah yang ada, tetapi pada kesamaan kepentingan.
Kebutuhan manusia yang harus dipenuhi menurut Maslow dibagi menjadi lima, yaitu: kebutuhan fiil (dasar), yang apabila telah terlampaui akan merambah ke kebutuhan lain yaitu rasa aman, kebutuhan akan kehidupan sosial, kebutuhan atas penghargaan, sampai pada kebutuhan akan realisasi diri.
Ternyata kebutuhan manusia sangatlah tidak terbatas, manusia tidak akan pernah puas dengan apa yang sudah didapatnya. Adanya faktor psikologis Id yang menyeruak dari alam bawah sadar manusia. Adanya system nilai etika maupun norma dalam kehidupan bermasyarakat yang harus dipatuhi mengakibatkan manusia mengalami konflik intern dalam dirinya maupun ekstern dengan manusia yang lain.Terkait dengan adanya konflik itulah maka manusia harus memilih antara sikap(a) bebas nilai, atau  (b) tidak bebas nilai dan terikat pada nilai moral tertentu.Bebas nilai artinya harus melepaskan diri dari aturan nilai moral atau etika tertentu dalam rangka memenuhi kebutuhannya secara individual dan berpaham liberalisme. Sedangkan yang tidak bebas nilai dan terikat pada nilai moral tertentu, cenderung lebih kooperatif pada masyarakat dan lingkungannya, karena mendasarkan kerjasama untuk saling melengkapi kebutuhannya dan berpaham sosialisme.Perbedaan dalam menyikapi nilai untuk memenuhi kebutuhannya inilah yang mengakibatkan perbedaan pula dalam pola pendekatan dibidang ekonomi, sosial-kultural, politik, pendidikan, human relationpublic relation dan lain-lain. Adanya penyikapan baik dari sudut pandang barat maupun dari sudut pandang timur mengakibatkan pula adanya dua jenis penyikapan, yaitu   (1)  bertindak ekstrim menolak perubahan budaya sehingga muncullah segmentasi budaya timur tradisional dan budaya barat tradisional, (2)menerima pencampuran budaya timur dan barat sehingga menghasilkan budaya baru, yaitu kebudayaan internasional.
Adanya penerimaan terhadap pencampuran budaya inilah yang mengakibatkan terjadinya pergeseran nilai dalam sikap manusia, yaitu:
a.    akibat tidak ramahnya alam, maka manusia dengan budaya internasionalnya akan cenderung sangat individual, tetapi dalam mencapai keinginannya harus mampu memanfaatkan kehidupan sosial yang  ada,
b.    adanya percampuran alam pikir mistis dari timur dengan alam pikir rasionaldari alam pikir barat. Akibat adanya proses pendidikan maka sisi rasional manusia  timur makin meningkat, sedangkan semakin banyaknya masalah yang tak sanggup dipecahkan oleh akal, maka manusia barat sampai pada titik pencarian sandaran pada kekuatan yang irasional dalam usaha memecahkan masalahnya (berpola mistis). Dalam hal ini muncullah kesadaran dari pandangan timur modern yang merasakan pentingnya sisi logika-rasional dalam mengambil keputusan dan tindakan, sedangkan dunia barat modern telah mencapai satu titik puncak ketidakmampuan memecahkan suatu masalah, dan hal itu dikarenakan ketidakmampuan mereka mengelola tekanan yang dialami, setelah mengadakan beberapa penelitian, maka cara yang terbaik untuk mengelola tekanan yang adalah dengan pengendalian sisi spiritual (mistis) untuk mencapai ketenangan sehingga mampu memecahkan masalahnya.
c.    tidak ada batas wilayah berkaitan dengan kelompok masyarakat. Yang muncul adalah masyarakat tanpa negara, tetapi kesatuan dan kerjasama bersandarkan pada kesamaan untuk saling memenuhi kebutuhan dan kesamaan sudut pandangnya. Sehingga terjadilah sintesa dari sisi individual liberalis dengan sosialis yaitu individual-sosialis, dalam arti kehidupan sosial sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan individual, apabila lingkungan kerjasama sosial sudah tidak menguntungkan kepentingannya maka ia akan beralih mencari kelompok lain yang mau dan mampu bekerjasama dengannya.